Monday, February 27, 2017

15MENITSEHAT – Pernah gak sih kamu bertanya kepada diri kamu. “mengapa sejak kecil kita dibiasakan makan 3 kali sehari (Sarapan, makan siang, makan malam)? Mengapa tidak dua? Atau empat? Atau bahkan 10.

Pola makan 3 kali sehari sudah dibentuk oleh masyarakat pada era terdahulu. Denice Winterman dari BBC menyediakan jawaban atas pertanyaan tersebut dengan membuat laporan tentang sejarah singkat bagaimana masyarakat di terdahulu menemukan dan kemudian membiasakan sarapan, makan siang, dan makan malam. Sebuah struktur makan yang menurut Denice tidak ada sebelum masyarakat mulai beranjak modern.
Sarapan tak ada dalam kamus masyarakat era Kekaisaran romawi. Mereka bisa makan sehari sekali di sekitar setengah hari. Dan Masyarakat romawi dulu terobsesi dengan sistem pencernaan tubuh dan menganggap makan lebih dari seklai dalam sehari sebagai tanda keserakahan.
Di era selanjutnya, pola makan terpengaruh pesat di tingkat religiusitas untuk makan di jam-jam pagi. Sebelum abad 17, dipercaya masyarakat eropa sarapan dijawab yang lebih awal dari sebelumnya.
Revolusi industri di inggris pada pertengahan abda 19 mengubah masyarakat menjadi lebih modern. Salah satu ciri modernitas adalah gaya hidup yang berstruktur dan berpola. Para pekerja dipatok jam kerja yang ketat, makak mereka membiasakan sarapan untuk mengisi tenaga sepanjang hari. Semua pekerja melakukannya tanpa terkecuali, bahkan bos bos mereka.
Pada tahan 1920 dan 1939, pemerintah negara-negara di eropa yang kemudian menyebab ke amerika serikat dan negara lain mulai mempromosikan pentingnya sarapan, namun perang dunia II membuat akses menuju sarapan amat susah. Keadaan mulai membaik dan kembali normal dan masyarakat dunia bisa kembali mengakses sarapan dengan layak usai PD II selesai. Di eropa dan AS sendiri, menggunakan sarapan dengan menu kopi instan, roti tawar, dan sereal mulai populer.
Beralih ke pembahasan makan siang, salah satu teor lahirnya kata “lunch” berasal dari kata Anglo-Saxon lawas “nuncheon” yang berarti “makan cepat di antara dua waktu makan dengan sesuatu yang bisa kamu pegang ditangan”. Kebiasaan ini dilestarikan hingga akhir abad 17. Dan teori lain berkata bahwa “lunch” yang digunakan sekitar abad 16 dan 17 yang berarti roti berukuran besar.
Namun, dari antara teori tersebut, kebiasaan masyarakat perancis untuk “Souper” pada abad 17lah yang membentuk apa yang hari ini kita sebut makan siang. Pada abad 17 rakyat perancis hanya memakan makanan ringan saja dikala malam, sehingga makan berat dialihkan ke waktu siang. Kebiasaan modis ini kemudian diterapkan oleh bangsawan inggris dan menyebar ke rakyat jelata.
Revolusi industri juga berpengaruh. Pola makan rakyat menengah didefinisikan oleh jam kerja. Banyak para pekerja menghabiskan waktunya dari pagi hingga sore, sehingga bagi mereka makan siang adalah sesuatu yang sama dengan sarapan. Meski waktunya mepet, namun mereka akan tetap mengusahakannya.
Akibat kebiasaan yang demikian populer, pada abat ke 19. Restoran-restoran dengan menu yang beragam muncul.  Para pekerja buruh juga disediakan waktu jam makan siang selama 1jam.
Saat pekerja kelelahan usai bekerja seharian, sore menjelang malam menjadi waktu yang tepat untuk mulai beristirahat. Kondisi lelah inilah yang kemudian memunculkan kebiasaan makan malam. Dan malam juga waktu yang tepat untuk keluarga berkumpul, sehingga mulai era 1950an, mulai ada kebiasaan makan malam bersama keluarga.
MAKAN BERAT NO, NGEMIL YES 
Menurut profesor sekali gus sejarawan dari Yale University, Paul Freedman, kebiasaan makan sehari tiga kali lebih untuk urusan sosial-budaya ketimbang biologis. Editor buku Food : The History of Taste itu berkata pada HowStuffWorks “bahwa munculnya makan tiga kali sehari sedarhana kanrea orang-orang nyaman dengan kebiasaan ini”.
Namun, kebiasaan makan tiga kali sehari juga lambat dan mengalami perubahan saat masyrakat makin modern, kata Freedman. Mereka harus menyesuaikan diri dengan jadwal makannya. Orang orang modern rata-rata memiliki jam kerja yang tinggi dan waktu senggangnya diisi dengan olahraga.
Pendapat Freedman didukung oleh hasil riset Euromonitor International yang dipublikasian pada 2011 lalu. Menurut riset ini, dalam beberapa hal terakhir terdapat perubahan jadwal makan tiga kali sehari menjadi sedikit dan fleksibel. Faktor penyebabnya adalah gaya hidup yang super sibuk.
Dampak dari gaya hidup ini, sebagaimana juga disampaikan oleh Freedman, bahwa orang-orang lebih suka ngemil alias makan cemilan. Warga dunia yang terburu-buru dengan sarapan, sehingga mereka membiasakan makan makanan kemasan, makan cepat saji atau sekedar kue-kue dengan cara “on to go” makin populer.  Disisi lain, kebiasan makan siang semakin dihindari akibat tekanan kerja yang tinggi.
Itulah asal usul makan tiga kali sehari, yang sudah dibentuk secara perlahan pada jaman dahulu hingga sekarang. Semoga bermanfaat  :)

0 komentar:

Post a Comment

TIPS TRENDING

Randa Rexsa. Powered by Blogger.

CUKUP DUDUK DI RUMAH, DAN BERMAIN LAPTOP. ANDA SUDAH BISA MEMPUNYAI PENGHASILAN PULUHAN JUTA PERBULANNYA

langkah ini adalah pekerjaan yang banyak diminati semua orang,bahkan anak remaja sekaliguspun bisa mengerjakan pekerjaan yang tidak rumit ...

TIPS TERPOPULER

KAMI SARANKAN

FANSPAGE