banner 728x250

Siswi Dijemur di Bawah Terik Matahari, Kadis Pendidikan Sulsel Dinilai Bungkam

banner 120x600
banner 468x60

Takalar,15menit.com– Dunia pendidikan di Sulawesi Selatan kembali tercoreng. Seorang siswi kelas 12 SMAN 2 Takalar, Mei Khumairah, menjadi korban dugaan perundungan yang dilakukan gurunya sendiri, Hj. Martini, saat upacara bendera, Senin (25/8/2025).

Alih-alih memberi pembinaan, sang guru justru menghukum siswinya berdiri di bawah terik matahari berjam-jam hanya karena terlambat mengikuti upacara. Ironisnya, puluhan siswa lain yang juga terlambat tidak mendapat perlakuan serupa.

“Anak saya dipermalukan di depan teman-temannya. Ini bukan pembinaan, ini penyiksaan,” tegas Rahman Daeng Ta’le, ayah korban.

Kasus ini sontak memicu kemarahan publik. Perlakuan tidak manusiawi tersebut dilakukan di hadapan ratusan siswa dan seakan menjadi tontonan. Bahkan, menurut keterangan saksi guru lain, Hj. Martini sempat berkata: “biar sampai pingsan.”

Rahman Daeng Ta’le mendesak Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Andi Iqbal Najamuddin, untuk segera memindahkan Hj. Martini dan mencopot Kepala SMAN 2 Takalar, Abd. Rauf, yang dinilai lalai mengawasi bawahannya.

Namun hingga kini, Kadis Pendidikan Sulsel terkesan bungkam. Pesan konfirmasi wartawan tak kunjung dijawab, sementara janji awal untuk menyelidiki kasus ini tak pernah terdengar tindak lanjutnya.

“Belum ada respons. Seolah-olah kejadian ini dianggap angin lalu,” kesal Rahman Daeng Ta’le.

Kekecewaan semakin memuncak ketika pihak keluarga mencoba menyelesaikan secara damai, tetapi justru mendapat tantangan. Sang guru disebut-sebut menantang dilaporkan ke polisi dengan dalih punya keluarga di institusi hukum.

Kasus ini kini ditangani Polres Takalar. Namun publik menilai, aparat penegak hukum dan dinas terkait bergerak terlalu lamban, sementara trauma korban semakin dalam.

Sorotan pun mengarah pada lemahnya pengawasan dunia pendidikan di Sulsel. Kasus ini menambah daftar panjang potret buram sekolah negeri yang seharusnya menjadi ruang aman bagi siswa, bukan tempat intimidasi.

“Ini bukan sekadar soal hukuman, tapi soal martabat anak didik yang diinjak-injak. Jika dibiarkan, dunia pendidikan kita hanya akan melahirkan ketakutan, bukan kecerdasan,” ujar seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya.

Desakan evaluasi total manajemen sekolah kini semakin kuat. Publik menunggu langkah tegas dari Dinas Pendidikan Sulsel, bukan sekadar janji kosong.

(*)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *